Randi Kembali Ke Sekolah

18 Juli 2010

Surandi atau akrab di panggil Randi, anak kelahiran 28 Juni ini adalah salah satu anak binaan KPAJ. Dia mengikuti Sekolah Ahad mulai dari pertama hingga saat ini.
Awalnya Randi adalah anak yang cukup sulit di atur, mengganggu teman – temannya hingga berantem merupakan kebiasaannya. Tapi semakin hari kami yang di KPAJ melihat perubahan sikap dia dan juga menangkap sesuatu dalam dirinya. Dia yang semakin bisa di atur dan mulai terlihat kecerdasan berpikirnya di setiap pelajaran (terutama matematika).
Randi putus sekolah, dia hanya sempat mengenyam bangku sekolah kelas 2 SD selama 2 bulan. Tahun lalu dia memutuskan berhenti karena sepatu dan seragam sekolahnya rusak/robek sedangkan orang tuanya tidak mampu membelikannya. Di samping itu juga faktor “mental”, dimana dia di sekolah sering di ejek “pengemis” “tukang minta2″ yang mengakibatkan dia sering berantem dan dihukum gurunya.

Selain sekolah ahad, KPAJ juga membuka kelas khusus setiap hari selasa, rabu dan kamis di tambah hari jumat kelas membaca tulis Al-quran. Pada 3 hari tersebut di pilih beberapa anak jalanan yang putus sekolah atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah. Dan Randi adalah salah satu yang masuk dalam kelas khusus.
*note : kelas khusus tidak berjalan lagi semenjak akhir bulan juli 2010

Dibina setiap hari selasa, rabu, kamis, jumat dan ahad membuat Randi sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan perubahan, perubahan yang baik tentu saja. Dia adalah salah satu anak yang menurut grafik KPAJ mengalami peningkatan dan terus menerus naik.
Hingga akhirnya menginjak bulan ke-3 KPAJ mengadakan kegiatan, kami memutuskan untuk menyekolahkan Randi kembali ke bangku sekolah, karena rasanya sayang membiarkan anak seperti dia harus menghabiskan semua waktunya di jalan.

Setelah merapatkan hal tersebut bersama teman-teman di KPAJ, akhirnya hari Jumat (16 Juli 2010) saya dan Erny yang mewakili KPAJ mencoba mengurus sekolah Randi. Di mulai dari menjemput Randi untuk di bawa ke sekolah lama (setelah sebelumnya sudah di beri ijin oleh orang tuanya untuk menjadi wali Randi untuk mengurus segala sesuatunya). Di sekolah lama kami mendapatkan perlakuan yang sedikit tidak mengenakkan dari pihak sekolah. Pihak sekolah sama sekali tidak “welcome” untuk membantu kami. Jujur, saya pribadi sempat merasakan “emosi jiwa” (dan ternyata Erny pun merasakan hal yang sama). Saya sama sekali tidak menyukai cara bicara para pendidik itu. Bayangkan saja, di depan seorang anak kecil tanpa sedikitpun mempedulikan perasaan si anak, para pendidik itu dengan seenaknya berkata “ooh ini kan Surandi, itu loh bu (berkata pada guru yang lain) anak yang waktu di data ditemukan di jalanan, yang meminta-minta di depan pintu 1 unhas”. Astagfirullah, kejamnya T.T
Randi memang pengemis, tapi bisakah untuk tidak berkata seperti itu di depan anaknya? Toh dia mengemis bukan karena kemauannya, tapi karena keadaan yang mengharuskannya meminta-minta. Ibunya yang (maaf) sempat terkena penyakit kusta dan bapaknya yang sakit-sakitan, ditambah rumah mereka mengalami 2 kali kebakaran, yang pada akhirnya mereka menyewa sebuah tempat berteduh di bawah kolong rumah tetangganya dengan membayar 70ribu/bulan. Keadaan seperti itulah yang membuat dia harus meminta-minta di jalan.
Dan bukankah ingatan anak kecil itu jauh lebih baik dari pada orang dewasa? saat mereka dewasa, mereka akan tetap mengingat kejadian-kejadian masa kecilnya yang ntah itu menyenangkan ataupun tidak

Ketika saya “sibuk” menghadapi ocehan dari kepala sekolah dan beberapa guru, di belakang saya Erny pun sibuk “menenangkan” hati Randi yang terdiam seribu bahasa.
Oke, mungkin juga (?) tersimpan kesal di hati guru – guru tersebut karena sebelum Randi berhenti, ibunya sempat ke sekolah dan marah2 sama gurunya karena di anggap tidak adil dalam menghukum anaknya.
Mungkin karena sempat mengalami perlakuan tidak mengenakkan dari ibunya Randi, sehingga kemarin kesannya “dilampiaskan” ke anaknya dan juga kami berdua, uhff!!!

Raport tidak ada (hilang tanpa jejak), surat pindah pun tidak didapatkan, akhirnya kami memutuskan untuk mencari sekolah baru dengan modal nekat :P
Pergilah kami ke sebuah SD Negeri di sekitar perumahan dosen Unhas. Disana kami disambut dengan sangat baik oleh guru-gurunya. Tapi sayang kelasnya penuh. Ya, kami memang terlalu terlambat untuk mengurus sekolah (anak – anak sudah mulai masuk sekolah). Di sana kami di arahkan ke UPTD untuk bertanya-tanya apa yang harus kami lakukan.
Kami pun segera beranjak ke sana (dikejar waktu juga, sholat jumat) setelah sebelumnya memulangkan Randi ke rumahnya. Kami memulangkan dia dengan pertimbangan kami tidak akan bisa leluasa bercerita tentang keadaan Randi jika anaknya ada di samping kami. Rasanya tidak tega.
Dan sebelum memulangkan Randi ke rumahnya, kami sempat bertanya pada dia “kalau kembali ke kelas 1 gimana? soalnya raportmu ndak ada”. Dan diapun mau.

Di UPTD kami sekali lagi mendapatkan perlakuan yang baik. Bapaknya dengan bijak memberikan kami solusi-solusi. Dan atas petunjuk Bapaknya, kamipun kembali mencari sekolah buat Randi. Setelah berdiskusi sebentar bersama Erny di parkiran, kami memutuskan untuk ke sebuah SD Negeri. Disana kami bertemu dengan kepala sekolahnya yang sudah bersiap-siap akan pulang. Sempat terjadi sedikit kesalahpahaman ketika bapak kepala sekolahnya mengira kami akan memaksakan Randi masuk sekolahnya di kelas 2 dalam keadaan tanpa rapor dan surat pindah. Padahal kami sadar kalau itu hal yang mustahil (berharap keajaiban sih sempat :P ).
Ketidakpahaman dengan kepala sekolahnya sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang. Setelah kami jelaskan pelan – pelan kejadian yang kami alami dari pagi, tentang keadaan keluarga Randi, tentang Randi yang 3 bulan ini ikut KPAJ, akhirnya bapaknya mengeluarkan kata-kata yang kami tunggu. Bapaknya bilang “kalau begitu anaknya di bawa besok, menghadap saya dulu dan nanti baru ke gurunya, mulai besok dia bisa sekolah”. Alhamdulillah. Kami sempat terdiam beberapa detik. Kalau saya sih speechless, tertegun dengan “pengiyaan” bapaknya (makasih banyak Pak).
Rasanya pengen nangis, setelah melalui proses yang cukup panjang dari pagi, akhirnya Allah membuka jalannya melalui bapak itu.
Dan ketika pamit, di parkiran ternyata Erny pun merasakan hal yang sama..”duh kak kHie mauka menangis rasanya”.
Ya terserahlah mau dianggap kami berlebihan, tapi itulah yang kami rasakan. Saya dan Erny sama sekali belum punya pengalaman ngurus-ngurus hal seperti ini dan ketika menemukan jalan keluar rasanya wuiihh, bahagia. Bahagia perjuangannya tidak sia-sia (Allah memang baik, selalu memberikan jalan buat hambanya), bahagia akhirnya Randi bisa kembali bersekolah meskipun dengan terpaksa harus mengulang kembali ke kelas 1. (tidak apa-apa, seperti kata bapak kepala sekolah bahwa pendidikan tidak mengenal umur)

Randi, kakak-kakakmu di KPAJ menaruh harapan yang besar padamu. Berharap kamu bisa sekolah setinggi-tingginya. Berharap kamu tidak akan mengecewakan kami dengan belajar sebaik mungkin. Berharap tidak melihatmu di jalan lagi meminta-minta. Berharap kamu bisa merubah nasibmu dan keluargamu menjadi lebih baik. Belajarlah yang rajin, berprestasilah sebanyak mungkin, tunjukkan pada orang-orang yang pernah menghinamu – yang pernah menyepelehkanmu – yang pernah tidak mengganggapmu – yang pernah mencapmu anak bermasalah, tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi anak yang jauh lebih baik dari anak yang mempunyai kelebihan materi. Dan tunjukkan pada kami kakak-kakakmu di KPAJ kalau kami tidak salah jika berharap itu padamu

*ini bukan perjuangan saya dan Erny, tapi semua temen -teman di KPAJ. Mungkin tidak akan ada kejadian ini kalau tidak ada KPAJ, supportnya yang “gila-gilaan”, kritik, saran yang “ajaib” di forum diskusi dan rapat (mari berjuang untuk “Randi-Randi” yang lain lagi)*
*buat mbak Dilla dan mas Nugie, terima kasih udah mau jadi orang tua asuhnya Randi. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan bertriliun-triun lipatnya di dunia dan akhirat..amin*

Selamat bersekolah di SD INPRES UNHAS, Randi

Silakan Menulis Komentar

  • Kategori

  • Archives