Pencarian dalam: Kisahku

4 Tahun, Berawal Dari Cinta dan Cita

#4thnKPAJ sudah kita lalui bersama, berawal dari cinta & cita, untuk sebuah tujuan, sesuatu yg lebih baik, sesuatu yang lebih besar, kebermanfaatan yang lebih luas. Bersama “Pasukan Bintang” kita mengiringi perjalanan itu, mengejar mimpi “Just for a Better Future” yang tak pernah lekang oleh waktu & selalu dihati.

#4thnKPAJ perjalanan yang tidak singkat & mudah, ada masa semangat itu mengejawantah menjadi sebuah aksi luar biasa yang mampu mengenyahkan segala rasa lelah, enggan, dan bimbang, ada masa semangat itu menyurut, dan ada masa semangat itu bangkit kembali, “Just for a Better Future”.

#4thnKPAJ suka duka kita lalui bersama, entah berapa banyak air mata, canda, dan tawa menyertai sepanjang perjalanan KPAJ, semuanya akan menjadi indah untuk dikenang, karena selalu ada hikmah yang dititpkan Allah dari semuanya untuk bisa dijadikan pembelajaran, “Just for a Better Future”.
(more…)

Lanjut

Gabung di Komunitas Pecinta Anak Jalanan

Kemarin, saya dan beberapa teman dari LPM PENALARAN UNM bertugas untuk melaksanakan penelitian lembaga. Penelitian itu di fokuskan pada fenomena Anak Jalanan, sehingga kami harus turun langsung ke lapangan untuk mengamati secara langsung dan untuk mendukung kegiatan agar berjalan lancar, kami bekerja sama dengan Komunitas Pecinta Anak Jalanan. Awalnya penelitian ini akan berjalan biasa-biasa saja. Namun anggapanku salah saat bertemu dengan teman-teman KPAJ, serta beberapa anak jalanan.

Kesan pertama, “HEBAT!!!”

Mereka hebat, baik KPAJ maupun anak jalanan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari senyum sederhana mereka, serta semangat yang kuat untuk terus menjalani hidup yang terkadang terlihat tak adil.

Anak jalanan itu punya nama lain, “Pasukan Bintang”, nama para anak jalanan yang kami temui kemarin. Semoga mereka nantinya akan menjadi bintang yang memiliki cahanya sendiri, menghiasi langit dan menerjemahkan indahnya malam lewat setiap berkas cahaya yang dipersembahkan.

Kemudian kami berbincang-bincang dengan teman-teman KPAJ, mendengar sejarah, masalah, dan pengalaman-pengalaman bersama PB, semuanya seru menurut saya. Sehingga saya tertarik untuk bergabung dengan mereka. Ingin melihat Pasukan Bintang menghargai namanya, melihat mereka hingga benar-benar menjadi bintang.

“Nama saya Muhammad Saipul, Mallang biasa panggil saya Ipul” Saat Ipul memperkenalkan dirinya,

Ipul namanya, salah satu anggota PB yang terlihat lebih aktif di banding yang lainnya. Saat diberi kesempatan untuk bergabung untuk mengawasi salah satu anggota PB, saya memilih Ipul.

“Ipul itu banyak bicara sekali, harus pi sabar!” Itu pesan kakak saat aku menyebut pilihanku.

“Oke lah.!!”

Sebelumnya, di kelas kecil aku juga berbincang dengan Ipul, mengajarnya perkalian dan belajar membaca. Kupikir Ipul adalah salah satu anak yang nantinya bisa menjadi bintang, meskipun saat ini dia masih kesulitan untuk membaca. Masih sulit membedakan huruf b dan d, huruf p dan d.Tapi saya yakin, ini hal mudah yang nantinya akan Ipul lalui. Dia punya cita-cita jadi pemain sepak bola, pas saya tanya tentang TIMNAS, ternyata 11 Pemain inti namanya di hafal.

Mantap.!!!

Semangat Pul..!!

Rajin belajar…,

Ipul bisa jadi peserta Olimpiade Matematika, Fisika, Biologi nantinya., Amiiin.

Sebelum dzuhur, kami berkunjung di Rumah KPAJ : Jl. Bung, Perumahan Bung Permai Blok AD No 8, Makassar. Di tempat itu, kami melihat karya-karya PB yang serba kreatif di bimbing oleh KPAJ semua menjadi terlihat bersemangat. Siang itu, PB dan KPAJ akan membuat es buah, yang nantinya akan dijual namun sayang kami harus pulang lebih awal karena ada agenda lain yang harus di kerjakan teman-teman peneliti.

Akhirnya, saya mendapat foto yang diupload di grup FB KPAJ,

Semangat…!!!

es buah “CERIA”

Bagi teman-teman yang lewat silahkan beli Es Ceria, atau ada yang mau pesan silahkan. Karena dengan beli itu berarti kita telah berbagi bahagia dengan mereka, seluruh hasilnya nanti akan menjadi dana untuk persiapan lebaran mereka.

ditulis oleh : Wawan Kurn |LPM PENALARAN UNM

Lanjut

Sekolah Alternatif, Memanusiakan Mereka Yang Terpinggirkan

Suasana belajar KPAJ

Ketika berada di lampu merah, seberapa sering anda mendapati anak-anak kecil menengadahkan tangan meminta belas kasihan ke para pengendara ? Pernahkah anda berpikir kalau anak-anak itu tidak seharusnya ada di jalanan dan seharusnya ada di sekolah, menuntut ilmu seperti anak-anak normal lainnya ?

Di Makassar, di sebuah kawasan bernama Tamalanrea ada beberapa anak muda yang meluangkan waktu mereka berusaha mengembalikan anak-anak itu ke sekolah. Anak-anak muda yang seharusnya lebih fokus memikirkan kuliah mereka atau karir mereka ternyata masih meluangkan waktu untuk memikirkan anak-anak jalanan di seputaran kampus UNHAS Tamalanrea.

Anak-anak muda itu tergabung dalam Komunitas Pecinta Anak Jalanan ( KPAJ ) mereka bergerak didasari rasa kemanusiaan yang tinggi, mereka percaya kalau anak-anak itu juga punya hak untuk bersekolah, punya hak untuk ikut merasakan pendidikan yang bisa mengubah jalan hidup mereka. KPAJ percaya kalau jalanan bukan tempat buat anak-anak itu, mereka harusnya ada di sekolah. Bukan di jalanan dan mencari uang, entah untuk makan atau sekadar untuk menyalurkan hobi mereka bermain game online di game centre.

KPAJ yang mulai terbentuk sekitar Februari 2010 berawal dari keprihatinan seorang mahasiswa Teknik Sipil melihat anak-anak jalanan sekitar kampus UNHAS yang tidak bersekolah. Bersama teman-temannya mereka kemudian menggelar Sekolah Ahad, sekolah non formil di mana mereka mengumpulkan anak-anak itu untuk diajar membaca,menulis dan berhitung setiap minggu pagi di dekat danau UNHAS.

Setelah setahun lebih KPAJ sudah semakin mapan. Berbekal donasi dari banyak pihak mereka sekarang sudah punya sekertariat yang mapan sehingga anak-anak itu bisa lebih enak untuk menimba ilmu. KPAJ juga punya program lain, mengembalikan anak-anak itu ke sekolah formil berbekal beasiswa dari beberapa orang tua asuh.

Tidak sedikit tantangan yang mereka terima dalam kurun waktu satu tahun lebih berjalannya KPAJ. Bukan hal yang gampang untuk menggoda anak-anak itu meninggalkan kebiasaan mereka di jalanan dan menggantinya dengan kebiasaan mencari ilmu. Awalnya anak-anak itu harus dijemput setiap sekolah ahad, tapi seiring berjalannya waktu anak-anak itu kemudian datang dengan sukarela dan sukacita ke sekolah KPAJ.

Anak-anak didik KPAJ diberi label “Pasukan Bintang”, alasannya mereka ingin menghilangkan strereotip anak jalanan pada mereka dan menggantinya dengan label bintang, pertanda harapan tinggi yang mereka gantungkan pada anak-anak yang kurang beruntung itu.

Di satu sisi lain Makassar ada juga sekelompok anak muda dengan niat yang sama. Dari sebuah perkampungan yang termasuk perkampungan kumuh kota Makassar mereka membentuk sebuah sekolah yang berafiliasi dengan Sokola Rimba milik Butet Manurung. Namanya juga Sokola, dan mulai berdiri sejak tahun 2004.

Seperti KPAJ, Sokola juga butuh waktu untuk bisa masuk ke dalam kehidupan warga pesisir Mariso yang didominasi oleh para pekerja non formil dan beberapa pecandu alkohol. Bukan hal yang mudah, tapi dengan niat yang kuat para personil Sokola perlahan tapi pasti bisa merebut kepercayaan dari penduduk sekitar sehingga semakin hari para orang tua di sekitar Mariso bisa mempercayakan anak-anakmereka belajar di Sokola. Bahkan, anak-anak itu belakangan jadi semakin betah di Sokola. Adegan anak sekolah yang dipaksa masuk sekolah sekarang sudah tidak ada, malah sebaliknya. Anak-anak itu harus dipaksa pulang ketika mereka masih betah di sekolah sementara guru-gurunya mau beristirahat.

Sejak tahun 2006 Sokola punya kegiatan baru. Mereka diminta untuk mengajar di sebuah tempat terpencil di Sulawesi Selatan. Sebuah suku bernama suku Kajang yang merupakan salah satu suku di pedalaman kabupaten Bulukumba. Oleh sang Amatoa ( Ketua Adat ) Sokola diminta mengajarkan anak-anak suku Kajang untuk membaca dan menulis.

Ini bukan persoalan mudah karena suku Kajang masih memegang erat adat istiadat mereka sehingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan aturan adat mereka sekaligus mencari cara terbaik untuk proses belajar-mengajar. Cara yang tentu saja tidak boleh disamakan dengan cara mengajar anak-anak di kota misalnya.

Habibi, perwakilan Sokola yang malam itu hadir di acara Tudang Sipulung bercerita bahwa improvisasi dan kreatifitas adalah kunci utama dalam mengajar anak-anak pesisir Mariso, anak-anak di suku Kajang maupun di tempat lain seperti di Flores dan Halmahera yang juga berada dalam naungan Sokola. Mereka tak bisa bertindak kaku sesuai buku teks atau seperti aturan sekolah pada umumnya. Mereka harus pandai-pandai mencari celah agar anak-anak didik itu bisa betah belajar meski itu berarti para pengajar juga harus turun ke sawah atau ke dangau bersama anak-anak didik mereka.

Bagaimana dengan bantuan pemerintah selama ini ? bisa dibilang sama sekali tidak ada, dan itu sangat ironis. Di saat ada anak muda yang mengambil alih sebuah pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas mereka, pemerintah malah berucap : sudahlah, kalian kuliah saja yang benar tidak usah pusing-pusing memikirkan urusan seperti itu. Itu jawaban yang diberikan mereka kepada anak-anak KPAJ ketika mereka berusaha mencari dana dari pemerintah.

Lain KPAJ, lain dengan Sokola. Sokola pernah mendapat bantuan dari pemerintah, hanya saja ada yang aneh. Bantuan yang mereka dapatkan sebesar 60% dari anggaran tapi mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban sebesar 100%.

Urusan dengan pemerintah yang berbelit-belit dan penuh birokrasi itu yang kemudian membuat teman-teman dari Sokola dan KPAJ berhenti meminta dukungan dari pemerintah. Sumber utama dana untuk menghidupkan program mereka adalah dari donasi warga dan hasil dari penjualan merchandise dan hasil kerajinan tangan anak-anak didik mereka. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak gampang untuk sebuah niat mulia.

Malam itu kami sungguh beruntung dipertemukan dengan sekelompok anak-anak muda yang sungguh luar biasa. Anak-anak muda yang tidak hanya memikirkan kesenangan masa muda tapi juga begitu tersentuh melihat anak-anak kurang beruntung di sekitar mereka. Hebatnya lagi karena merekatidak hanya diam dan merasa kasihan, tapi bergerak dan berbuat sesuatu meski mereka sama sekali tidak mendapat dukungan dari pemerintah.

Anak-anak muda yang luar biasa. Melihat mereka, saya yakin kalau Indonesia belum kehilangan harapan. Indonesia hanya butuh lebih banyak lagi anak-anak muda seperti mereka yang aktif di KPAJ dan Sokola. Anak-anak muda yang memanusiakan anak-anak yang kurang beruntung dan terpinggirkan.

 

Ditulis Oleh : Ipul dg.Gassing | a husband | a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learnon August 2, 2011.

Lanjut

Merindukan KPAJ

Tanggal dan bulan saya lupa, tapi yang jelas saat itu menjelang isya saya nongkrong dengan beberapa adik-adik Pasukan Bintang (Randi, Riswan, Acul, Irfan, Ippang, Wandi). Iwan Fals menggambarkan mereka ini dalam sebuah lagu yang berjudul Sore Tugu Pancoran, tapi melihat mereka membuat saya berfikir (hanya pada malam itu), lagu itu adalah sebuah kebohongan. Mereka ceria, penuh perhatian, penuh canda padahal mereka tidak sedang/sengaja untuk bercanda seakan-akan kata ‘kesusahan’ tidak pernah mereka dengar. Mereka membuat saya merenung sejenak dan bertanya pada diri sendiri “BAGAIMANA KALAU SAYA DIPOSISI MEREKA???”..hhmmm???

Ada satu kisah juga yang membuat saya sangat..sangat rindu berada di KPAJ, yaitu saat menemani pulang adik-adik PB dengan berjalan kaki selepas Sekolah Ahad, khususnya (adik-adiknya Sarina, Yuli, Putri, Salma, Dilla dan Anti).
Selain itu ada adik-adik dari BTN Hamzi, kalian memiliki orang tua yang luar biasa, tetap bersyukur dan tetap berusaha. Beberapa di antara mereka yang membantu orang tuanya mencari nafkah dengan cara membersihkan rumah orang lain..kereenn. Kakakmu ini ‘sangat kecil’ di hadapanmu atas apa yang adikku tercinta lakukan. *salut ^_^

Itu kisahku di KPAJ yang tidak bisa saya lupa dari banyak sekali pengalaman berharga yang menjadi guru buat diriku. Sangat senang bergabung dengan kalian wahai orang-orang berhati mulia..aseek dan lebih senang lagi bisa mengenal Pasukan Bintang ^_^.
Terimakasih buat k’ Fajri yang menerima kami pertama kalinya dan terima kasih buat kakak-kakak yang lain yang membuat kami betah..ehm ^_^

Just for a better future.

**Tulisan ini dibuat oleh kak Arfan. Dia sempat menjadi wakil ketua di KPAJ, yang pada akhirnya harus kembali ke kampung halamannya di Sumbawa. Sedikit cerita tentang hari terakhirnya di KPAJ bisa di baca postingan Ada Yang Pamit**

Lanjut

Randi Kembali Ke Sekolah

18 Juli 2010

Surandi atau akrab di panggil Randi, anak kelahiran 28 Juni ini adalah salah satu anak binaan KPAJ. Dia mengikuti Sekolah Ahad mulai dari pertama hingga saat ini.
Awalnya Randi adalah anak yang cukup sulit di atur, mengganggu teman – temannya hingga berantem merupakan kebiasaannya. Tapi semakin hari kami yang di KPAJ melihat perubahan sikap dia dan juga menangkap sesuatu dalam dirinya. Dia yang semakin bisa di atur dan mulai terlihat kecerdasan berpikirnya di setiap pelajaran (terutama matematika).
Randi putus sekolah, dia hanya sempat mengenyam bangku sekolah kelas 2 SD selama 2 bulan. Tahun lalu dia memutuskan berhenti karena sepatu dan seragam sekolahnya rusak/robek sedangkan orang tuanya tidak mampu membelikannya. Di samping itu juga faktor “mental”, dimana dia di sekolah sering di ejek “pengemis” “tukang minta2″ yang mengakibatkan dia sering berantem dan dihukum gurunya.

Selain sekolah ahad, KPAJ juga membuka kelas khusus setiap hari selasa, rabu dan kamis di tambah hari jumat kelas membaca tulis Al-quran. Pada 3 hari tersebut di pilih beberapa anak jalanan yang putus sekolah atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah. Dan Randi adalah salah satu yang masuk dalam kelas khusus.
*note : kelas khusus tidak berjalan lagi semenjak akhir bulan juli 2010

Dibina setiap hari selasa, rabu, kamis, jumat dan ahad membuat Randi sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan perubahan, perubahan yang baik tentu saja. Dia adalah salah satu anak yang menurut grafik KPAJ mengalami peningkatan dan terus menerus naik.
Hingga akhirnya menginjak bulan ke-3 KPAJ mengadakan kegiatan, kami memutuskan untuk menyekolahkan Randi kembali ke bangku sekolah, karena rasanya sayang membiarkan anak seperti dia harus menghabiskan semua waktunya di jalan.

Setelah merapatkan hal tersebut bersama teman-teman di KPAJ, akhirnya hari Jumat (16 Juli 2010) saya dan Erny yang mewakili KPAJ mencoba mengurus sekolah Randi. Di mulai dari menjemput Randi untuk di bawa ke sekolah lama (setelah sebelumnya sudah di beri ijin oleh orang tuanya untuk menjadi wali Randi untuk mengurus segala sesuatunya). Di sekolah lama kami mendapatkan perlakuan yang sedikit tidak mengenakkan dari pihak sekolah. Pihak sekolah sama sekali tidak “welcome” untuk membantu kami. Jujur, saya pribadi sempat merasakan “emosi jiwa” (dan ternyata Erny pun merasakan hal yang sama). Saya sama sekali tidak menyukai cara bicara para pendidik itu. Bayangkan saja, di depan seorang anak kecil tanpa sedikitpun mempedulikan perasaan si anak, para pendidik itu dengan seenaknya berkata “ooh ini kan Surandi, itu loh bu (berkata pada guru yang lain) anak yang waktu di data ditemukan di jalanan, yang meminta-minta di depan pintu 1 unhas”. Astagfirullah, kejamnya T.T
Randi memang pengemis, tapi bisakah untuk tidak berkata seperti itu di depan anaknya? Toh dia mengemis bukan karena kemauannya, tapi karena keadaan yang mengharuskannya meminta-minta. Ibunya yang (maaf) sempat terkena penyakit kusta dan bapaknya yang sakit-sakitan, ditambah rumah mereka mengalami 2 kali kebakaran, yang pada akhirnya mereka menyewa sebuah tempat berteduh di bawah kolong rumah tetangganya dengan membayar 70ribu/bulan. Keadaan seperti itulah yang membuat dia harus meminta-minta di jalan.
Dan bukankah ingatan anak kecil itu jauh lebih baik dari pada orang dewasa? saat mereka dewasa, mereka akan tetap mengingat kejadian-kejadian masa kecilnya yang ntah itu menyenangkan ataupun tidak

Ketika saya “sibuk” menghadapi ocehan dari kepala sekolah dan beberapa guru, di belakang saya Erny pun sibuk “menenangkan” hati Randi yang terdiam seribu bahasa.
Oke, mungkin juga (?) tersimpan kesal di hati guru – guru tersebut karena sebelum Randi berhenti, ibunya sempat ke sekolah dan marah2 sama gurunya karena di anggap tidak adil dalam menghukum anaknya.
Mungkin karena sempat mengalami perlakuan tidak mengenakkan dari ibunya Randi, sehingga kemarin kesannya “dilampiaskan” ke anaknya dan juga kami berdua, uhff!!!

Raport tidak ada (hilang tanpa jejak), surat pindah pun tidak didapatkan, akhirnya kami memutuskan untuk mencari sekolah baru dengan modal nekat :P
Pergilah kami ke sebuah SD Negeri di sekitar perumahan dosen Unhas. Disana kami disambut dengan sangat baik oleh guru-gurunya. Tapi sayang kelasnya penuh. Ya, kami memang terlalu terlambat untuk mengurus sekolah (anak – anak sudah mulai masuk sekolah). Di sana kami di arahkan ke UPTD untuk bertanya-tanya apa yang harus kami lakukan.
Kami pun segera beranjak ke sana (dikejar waktu juga, sholat jumat) setelah sebelumnya memulangkan Randi ke rumahnya. Kami memulangkan dia dengan pertimbangan kami tidak akan bisa leluasa bercerita tentang keadaan Randi jika anaknya ada di samping kami. Rasanya tidak tega.
Dan sebelum memulangkan Randi ke rumahnya, kami sempat bertanya pada dia “kalau kembali ke kelas 1 gimana? soalnya raportmu ndak ada”. Dan diapun mau.

Di UPTD kami sekali lagi mendapatkan perlakuan yang baik. Bapaknya dengan bijak memberikan kami solusi-solusi. Dan atas petunjuk Bapaknya, kamipun kembali mencari sekolah buat Randi. Setelah berdiskusi sebentar bersama Erny di parkiran, kami memutuskan untuk ke sebuah SD Negeri. Disana kami bertemu dengan kepala sekolahnya yang sudah bersiap-siap akan pulang. Sempat terjadi sedikit kesalahpahaman ketika bapak kepala sekolahnya mengira kami akan memaksakan Randi masuk sekolahnya di kelas 2 dalam keadaan tanpa rapor dan surat pindah. Padahal kami sadar kalau itu hal yang mustahil (berharap keajaiban sih sempat :P ).
Ketidakpahaman dengan kepala sekolahnya sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang. Setelah kami jelaskan pelan – pelan kejadian yang kami alami dari pagi, tentang keadaan keluarga Randi, tentang Randi yang 3 bulan ini ikut KPAJ, akhirnya bapaknya mengeluarkan kata-kata yang kami tunggu. Bapaknya bilang “kalau begitu anaknya di bawa besok, menghadap saya dulu dan nanti baru ke gurunya, mulai besok dia bisa sekolah”. Alhamdulillah. Kami sempat terdiam beberapa detik. Kalau saya sih speechless, tertegun dengan “pengiyaan” bapaknya (makasih banyak Pak).
Rasanya pengen nangis, setelah melalui proses yang cukup panjang dari pagi, akhirnya Allah membuka jalannya melalui bapak itu.
Dan ketika pamit, di parkiran ternyata Erny pun merasakan hal yang sama..”duh kak kHie mauka menangis rasanya”.
Ya terserahlah mau dianggap kami berlebihan, tapi itulah yang kami rasakan. Saya dan Erny sama sekali belum punya pengalaman ngurus-ngurus hal seperti ini dan ketika menemukan jalan keluar rasanya wuiihh, bahagia. Bahagia perjuangannya tidak sia-sia (Allah memang baik, selalu memberikan jalan buat hambanya), bahagia akhirnya Randi bisa kembali bersekolah meskipun dengan terpaksa harus mengulang kembali ke kelas 1. (tidak apa-apa, seperti kata bapak kepala sekolah bahwa pendidikan tidak mengenal umur)

Randi, kakak-kakakmu di KPAJ menaruh harapan yang besar padamu. Berharap kamu bisa sekolah setinggi-tingginya. Berharap kamu tidak akan mengecewakan kami dengan belajar sebaik mungkin. Berharap tidak melihatmu di jalan lagi meminta-minta. Berharap kamu bisa merubah nasibmu dan keluargamu menjadi lebih baik. Belajarlah yang rajin, berprestasilah sebanyak mungkin, tunjukkan pada orang-orang yang pernah menghinamu – yang pernah menyepelehkanmu – yang pernah tidak mengganggapmu – yang pernah mencapmu anak bermasalah, tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi anak yang jauh lebih baik dari anak yang mempunyai kelebihan materi. Dan tunjukkan pada kami kakak-kakakmu di KPAJ kalau kami tidak salah jika berharap itu padamu

*ini bukan perjuangan saya dan Erny, tapi semua temen -teman di KPAJ. Mungkin tidak akan ada kejadian ini kalau tidak ada KPAJ, supportnya yang “gila-gilaan”, kritik, saran yang “ajaib” di forum diskusi dan rapat (mari berjuang untuk “Randi-Randi” yang lain lagi)*
*buat mbak Dilla dan mas Nugie, terima kasih udah mau jadi orang tua asuhnya Randi. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan bertriliun-triun lipatnya di dunia dan akhirat..amin*

Selamat bersekolah di SD INPRES UNHAS, Randi

Lanjut

Hadiah untuk Randi

23 Desember 2010, Malam itu sy dapat sms dari adik binaan KPAJ bernama Randi…..tulisannya seperti ini “ka erni.dapat.renkin.2.ya.ka” hhhm membaca sms ini tentu sj hati ini merasa gembira, Alhamdulilah Randi dapat peringkat 2 di kelas, walaupun harapannya Randi bs dpt peringkat 1 tp dpt peringkat 2 sj kami sngat bersyukur pada sang kuasa. Akhirnya perjuangan kami selama ini tidak sia-sia, sdh menuai hasil yg cukup baik, Syukrn Jiddan Ya Rabb……

Kami berharap Randi bisa dpt peringkat 1 di semester berikutnya……krn ini masih tahap awal,,, Randi baru beradaptasi dengan dunia barux di bangku sekolah setelah beberapa lama dia tidak bersekolah lagi…Ayo Randi kamu pasti bisa jd BINTANG kelas……dengan mempelajari kekurangan kemarin dan berusaha memperbaiki kedepanX insya Allah Randi bs dapat peringkat 1…….Intinya Randi harus lebih giat belajar, jangan malas ke sekolah, dan mental Randi harus terus dibangkitkan, jangan pernah merasa lebih rendah dari yg lainnya.

Sebelum mulai belajar di bangku sekolah SD UNHAS, kami sempat menjanjikan Randi Hadiah kalo Randi bisa Rangking 1 di kelas, ato setidaknya dapat peringkat 1-3, ini untuk memacu semangat belajar Randi & teman2 yang lain,,,,,Kalo janji dari sy pribadi akan mengajak Randi Jalan2…makan, main,foto2,dan belanja bersama sama ditempat yg mgkin Randi belum pernah menginjakkan kakinya disana.

Tibalah waktu untuk menunaikan janji tersebut…..Sepulang sekolah Ahad Jam 1 tgl020111 siang sy menjemput Randi n si kecil icha (Adik Randi) dirumahnya, mengajak mereka jalan2 ke MTOS, naik Pt2. Teriknya matahari tidak menrunkan semangatku utk berbagi kebahagiaan dengan bintang2 kecil ini.

Tempat yg kita kunjungi pertama adalah Time Zone,,,disana kami bermain berbagai jenis permainan mobil2lan, bowling, panah keberuntungan, kuda2an dan yg paling seru Playing BasketBall….melihat senyum mereka sungguh menyejukkan Qalbu ini…. :)

Target berikutnya Foto2….kami berfoto box….bergaya didepan kamera, tersenyum, piss, dkk…..hehehe,,,,serunya ^_^v……

Sehabis bermain, foto2, wah cacing di perut demontsrasi….teng3x waktux makan dek’ ayo2 kt pergi makan…..Randi n Icha pesan Bakso Pa’ De,sy makan Soto Banjar…hehehe, Syukur Alhamdulilah masih bisa berbagi rezeki bersama mereka…NyamiNyamiNyami ueeenak……..@_@

the next travelling is Graha Media….Beli Buku-buku pelajaran dan juz Amma buat Randi sebagai Hadiah atas prestasi peringkat 2 yg di Raihnya…..Harapannya Buku2 nya bisa menambah wawasan dan meningkatkan kemapuan bahs Inggris Randi…..U/ Jus Amma nya, spya Randi bisa terus menambah Hafalan surah pendek2nya. Buku yg dibeli ada 3,,,,, 1. Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap SD,,,,2. GOOD English 4 SD,,,,3. Jus Amma……Adik2 jg pengen dibeliin permainan Rubik, jd sy Belikan krn Rubik bisa membantu mengembangkan kecerdasan Logic mathematic anak…….>.<’, Aq jg sempat beli majalah Opium edisi desember 2010 krn didalmnya ada tulisan dan foto2 tentang KPAJ..HHmm diriku masuk Majalah juga….he3x…

Sudah main2, foto2, makan2, n belanja2..hehehe, wktux Back to Home,,,,Weitss saat mau turun eskalator ke lantai dasar Randi Tertinggal dibelakng kami, dia asyik memainkan Rubiknya, sy sama icha sdh turun tp Randix ko’ tdk muncul2 dr atas ikutin kami……terxta Randi kehilangan jejak kami,…stlah menunggu lama dibawa Batang Hidung Randi tak Kunjung Muncul, sy memutuskan u/ mencari bocah ini  ke lantai 2 lagi..

Saat itu konsidi MTOS sangat Ramai, maklum kedatangan Artis Film Dalam MihRab Cinta..Asmiranda tp kami tidak sempat nonton,,,,,,Sibuk nyari Randi yg tidak kunjung kelihatan jg. Kami terus mencari dimana2 tp toh Randi tidak kelihatan jg sampai harus pulang balik mondar mandir naik turun ksna kemari, tp hsilX Randi tidak keliatan jg….sempet jg kami bertemu dengan Saldi Adik binaan KPAJ, dia jg sy suruh u/ jaga Randi Kalo ktmu bilang k’erni duluan pulang, krn dia sdh kami cari kemana2..Sampai akhirnya kami memutuskan U/ Pulang tanpa Randi……..

Perasaan ku Sedekit cemas, dan deg2 kan…..apa katax orang tua mereka kalo Randi kami tinggal, tp hari semakin sore jg, kami harus segera pulang,,,,Sy dan Icha sdh naik dipete2 sambil noleh kanan kiri,cemas mencari Randi, tiba2 sj muncul seorang anak berseragam olahraga pink merah diseberang sana…….aku langsung memtuskan u/ turun dari Pt2 dan memanggil Randi Padahal sopirnya buru2 berangkat, “Tunggu sbentar Pak Kataku” Smbil teriak Randi….Randi…Alhmdulilah randi sdh liat Kami, perasaanku sdh lega dan bahagia…Akhirnya Kami bisa pulang Bertiga seperti saat Berangkat…….He3x…..Perjalanan hari ini sungguh menyenangkan dan sangat berkesan.

Syukur Alhamdulillah ya Rabb…Engkau masih mengijinkan HambaMU ini berbagi cinta dan kasih sayang terhadap sesama” …Maka nikmat TuhanMu manakah yg engkau Dustakan??”

” Indahnya Saling Berbagi :) “

Lanjut

Harapan itu masih ada, Ipul !

bintangBertepatan dengan penerimaan raport hari Sabtu (25/06/11), siang harinya kami bersilaturahmi ke rumah adik – adik Pasukan Bintang (PB) untuk melengkapi surat pernyataan, data kebutuhan sekolah, dan sekaligus mengecek hasil raport PB. Satu persatu kabar menyenangkan menghampiri, PB memberi kabar mereka naik kelas. Kami bahagia. Hingga bertemulah kami dengan PB Muhammad Saipul yang biasa dipanggil Ipul ini. Jawaban cukup mengagetkan terdengar darinya, dia tidak naik kelas.Setelah mengelilingi beberapa rumah PB, kediaman Ipul adalah persinggahan terakhir kami siang itu. Kami melihat raportnya. Hanya 1 nilai yang merah yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mendapat nilai 55. Kami langsung menduga satu hal yang kemudian itu benar. Ipul tidak naik kelas karena belum lancar membaca. Mungkin di sinilah kami lalai pada perkembangan adik yang bercita – cita menjadi pemain bola ini. Kami sedih? Tentu saja.

Keesokan harinya setelah selesai Sekolah Ahad, kakak – kakak KPAJ mencoba menasehatinya. Tentu saja tanpa amarah dan tidak menyalahkan. Karena kami sadar, jika menyalahkan ketidaknaikan kelasnya akan membuat dia semakin “down”. Padahal saat ini yang dia butuhkan adalah dukungan semangat agar tetap sekolah. Dan setelah itu Ipul mengucapkan janji akan jauh lebih giat belajar membaca. Sengaja dengan tegas kami memberinya waktu 1 bulan untuk dia bisa membaca dengan lancar. Kami menyuruhnya untuk datang di Rumah KPAJ pada saat kelas paket, biarlah dia di sana belajar membaca. Disamping itu kami juga meminta Ramlang (Komandan Pasukan Bintang) yang sekarang duduk di kelas 7 untuk ikut membantu mengajari membaca. Ipul harus bisa membaca dalam 1 bulan ! Biarlah itu menjadi “hukuman” buatnya. Biarlah jadi pelajaran berharga untuk dia. Biarlah dia belajar dari kejadian ini.

Dan yang kemudian muncul di benak kami adalah bagaimana dengan calon orang tua asuhnya? Akankah OTA-nya memutuskan untuk tidak memberi beasiswa pada Ipul dan mengambil PB yang lain? Hingga saat ini kami belum tahu keputusan calon OTA-nya. Dan jikapun Ipul tidak jadi diberi beasiswa pendidikan oleh calon OTA-nya, maka Ipul akan menjadi “adik asuh KPAJ”. Dia harus tetap sekolah. Semangatnya tidak boleh dipadamkan. Harapan dan cita – citanya tidak boleh dibiarkan layu. Kejadian ini tidak harus dibesar – besarkan, ini bukan masalah. Justru sebaliknya menjadi cambuk untuk lebih maju.

-Sebuah percakapan terjadi antara Ipul dan Sule ketika mereka menemani kami bersilaturahmi ke rumah salah satu adik PB-
Sule : “Jammako do’ sekolah. Bawa bentor mako kek saya. Apa itu sekolah, ada mi presiden, banyak mi polisi”
Ipul : “Ndak mau ja. Rendahnya cita – citamu itu jadi tukang bentor ji. Orang mau jadi pemain bola”

Tetaplah semangat, Ipul. Harapan itu masih ada dan tetap ada !!

Lanjut
  • Kategori

  • Archives