“Hidup adalah pilihan.”
Simbolik di atas sangat berpengaruh. Setiap yang bernapas tentu memiliki jalan hidup tersendiri. Setiap manusia berhak untuk itu. Yang disalahkan adalah ketika mereka “mencoblos” ranah kehidupan, namun tidak memiliki akar yang kuat.
Sekian makhluk Alloh, memilih jalan hidup tanpa arah, sehingga di tengah pernalanannya, tertumbuk oleh sekat-sekat penghalang. Biangnya cuma satu, yaitu: TIDAK TAU ARAH.
Hari ini, tepatnya ba’da asar, diri saya dan bersama rekan-rekan sejiwa, berusaha “menundukkan kepala” di depan komunitas yang kita anggap terpinggirkan. Sungguh sangat mengharukan. Sore hari, dimana fatamorgana telah sirna, matahari mulai mencuat ke landasannya, di kiri-kanan ku masih terlihat suasana meriah meledak-ledak. Kumpulan “aset agama Islam” menunggu untuk mengecap pendidikan. Saya sangat bersyukur berada bersama mereka-mereka.
Lendir ingus yang masih menempel kuat di area kumis, baju kusut belum sempat dikancing, celana yang masih mempertontonkan aurat, semuanya ciri khas anak-anak itu. Sangat berbeda dan mendalam bagi diri saya pribadi. Di tengah-tengah gemuruhnya para pendidik yang asyik memintarkan siswa yang “pintar”, saya sangat bersyukur kepada Alloh bisa menyatu bersama anak-anak lucu itu. Akar tindakan saya adalah: SAYA CINTA MEREKA, SI MUNGIL-MUNGIL ITU.
Semoga, sekarang dan hari ini, Alloh tidak mencabut rasa kasih sayang saya kepada generasi mungil Rosulullah dari diri saya. Menumbuhkan kepekaan sosial kepada mereka. Meskipun di tengah-tengah kapasitas keilmuan yang saya miliki, saya berharap masih ada “kawan” bisa bergabung melihat realitas seperti ini. Saya sangat bersyukur kepada Alloh dan mengucapkan, Alhamdulillah, Saya Bisa Mengajar “Anak Jalanan”.
Ditulis oleh : Artup Radnansuk | Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar

August 4th, 2011
Khie
Posted in
Tags: 
